Dahulu kala di Air Manis, hiduplah Malin Kundang bersama ibunya, Mande Rubayah. Setelah ayahnya meninggal, Malin memutuskan merantau untuk mengubah nasib. Bertahun-tahun kemudian, Malin kembali sebagai saudagar kaya dengan kapal megah dan istri cantik.
Namun saat ibunya yang sudah tua dan compang-camping menyambutnya, Malin menolak mengakuinya karena malu. "Wanita tidak tahu diri, sembarangan mengaku sebagai ibuku!" hardiknya. Mande Rubayah yang sakit hati pun berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya.
Seketika badai dahsyat menghancurkan kapal Malin. Keesokan harinya, di pantai terdapat batu berbentuk manusia bersujud - konon itulah Malin yang dikutuk. Hingga kini, batu tersebut masih bisa dilihat di Pantai Air Manis sebagai pengingat untuk selalu berbakti kepada orang tua.